Jumat

Konferensi pers penolakan tambang di Sumba

PENOLAKAN TAMBANG EMAS DI DARATAN SUMBA
Dr. Kebamoto
(ktanabi@gmail.com)
Dasar:
1. Berbagai masukan dalam interaksi lewat forum Face Book dengan akun “Mata untuk Sumba (MUS)” dengan jumlah pengikut sekitar 1600 akun.
2. Saya juga dapat diposisikan sebagai Doktor Ilmu Pengetahuan Alam, staff dosen pada Universitas Indonesia, yang melaksanakan fungsi pengabdian masyarakat dengan inisiatif pribadi karena keterkaitan sebagai putra daerah Sumba.

Dasar penolakan:
1. Ribuan hektar sawah yang terhampar di 3 kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya serta lahan-lahan pertanian produktif lainnya akan terancam menjadi hamparan lahan tandus karena ketiadaan pasokan air.
Hamparan sawah yang berada di dataran rendah di bagian tengah, barat dan selatan ketiga kabupaten ini mendapatkan pengairan dari sumber air yang keluar pada titik-titik tertentu yaitu dari dalam gua/tanah. Dari petunjuk-petunjuk alam seperti deretan sumber mata air, deretan hutan dan topografi pulau Sumba memberikan INDIKASI bahwa tata air (hidrologi) berupa sungai-sungai dalam tanah berasal dari pegunungan Tana Daru dan sekitarnya. Belum jelas apakah reservoir air yang merupakan hulu suangai-sungai bawah tanah tersebut hanya berada di bawah pegunungan Tana Daru ATAU berupa deretan reservoir air yang berantai di bawah gunung-gunung lain pada radius puluhan kilometer dari pusat Tana Daru. Naiknya air tanah yang yang mengalir lewat sungai-sungai bawah tanah, disebabkan struktur geologi dan tekanan massa pegunungan Tana Daru dan gunung-gunung lain di sekitarnya.

Jika dilakukan aktivitas pertambangan terbuka pada daerah sekitar Tana Daru yaitu di kecamatan Umbu Rato Nggai, AKAN menurunkan tekanan pada reservoir air yang mengakibatkan keringnya sungai-sungai bawah tanah yang “menghidupi” masyarakat Sumba pada umumnya. Akibatnya seluruh daratan Sumba akan kekeringan dan dalam waktu panjang berubah menjadi gurun tandus.
Di tengah KETIDAKTERSEDIAAN data struktur geologi, peta hidrologi beserta letak reservoir air tersebut maka aktivitas pertambangan SANGAT DIKUATIRKAN berdampak buruk bagi seluruh Sumba.
Karena itu, ketentuan undang-undang yang hanya mempersyaratkan analisa dampak lingkungan (AMDAL) janganlah diterima sebagai sebuah rumus yang sifatnya “one fits all” dan berlaku dimana-mana di semua pulau dimana aktivitas pertambangan sudah berlangsung.
Dalam konteks pulau Sumba khususnya daerah target aktivitas tambang di kecamatan Umbu rato Nggai di kabupaten Sumba Tengah dibutuhkan analisa dampak negatif JAUH DARI sekedar AMDAL saja sebelum mempertimbangkan kelayakan aktivitas pertambangan terbuka seperti tambang emas.
(Penjelasan ini dapat dipakai juga untuk kasus pegunungan Wangga Meti yang merupakan sumber air bagi seluruh Sumba Timur).
Alasan dasar inilah yang dapat dijadikan LEGAL STANDING mengapa penolakan tambang ini disuarakan oleh semua orang Sumba dan tidak lagi diterima sebagai persoalan internal rakyat Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Timur.

2. Rawan Longsor dan daya dukung lingkungan rendah
Topografi pulau Sumba berupa pegunungan dan hanya sebagian kecil dataran rendah. Di bagian utara terdapat banyak gunung yang tandus (Utara) dan bagian tengah dan selatan juga berupa pegunungan namun sebagian kecil berupa hutan. Hutan dengan hamparan yang relatife luas di Sumba berada di Kabupaten Sumba Tengah.
Khusus kabupaten sumba tengah (daerah tujuan tambang saat ini): Luas wilayah sekitar 1.900 km2 . sedangkan luas areal hutan sekitar 140.000 ha = 1.400 km2. Berarti luas daerah yang dapat dijadikan lahan pertanian hanya 500 km2.
Kemiringan Tanah: kemiringan 40o = 38%
Kemiringan 40o = 62%
Ketinggian dataran : meter =49% meter 51%
Artinya, saat ini saja wilayah ini sudah memiliki daya dukung yang sangat rendah apalagi dijadikan wilayah tambang terbuka. Penyerapan air oleh tanah yang sangat rendah akan berpotensi kuat untuk menyebabkan tanah longsor serta banjir bandang di kemudian hari.
Tentu saja persoalannya akan berentet kepada dampak buruk pada kesetimbangan ekologi-lingkungan yang saya percaya sudah sangat dipahami banyak pihak.
5. Sumba Tengah menuju wilayah berpenduduk terpadat di Indonesia dengan berbagai dampak social yang berpotensi buruk.
Menurut data 2010, Sumba Tengah yang luas kawasan di luar hutannya hanya 500 km2 ini dengan jumlah penduduk 59.000 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 2,3%. Ini berarti kepadatan penduduknya sekitar 118 jiwa/km2. Sesungguhnya sejajar dengan Ende, Sumba Barat Daya dan Belu. Untuk rata-rata NTT saja hanya 95 jiwa/km2. Berarti saat ini kepadatan penduduk Sumba Tengah melampaui kepadatan penduduk rata-rata NTT.
Tambang terbuka seperti tambang emas akan menghabiskan lahan yang luas. Kita tidak pernah tahu berapa banyak lahan yang dibutuhkan karena sangat bergantung kepada sebaran deposit emasnya. Jika saja dalam 30 tahun areal tambang menjadi 100 km2 (=10.000 ha) dan 30 tahun itu penduduknya 2 kali lipat saja sekitar 120.000 jiwa, maka kepadatan penduduknya menjadi 300 jiwa/km (3 kali lipat). Jadi 1 ha lahan digarap oleh 3 orang. Apa yang terjadi setelah itu? Apa yang terjadi pula jika 60 tahun tambang berada di sana?
Secara logika saja dapat dikuatirkan perang suku dalam perebutan tanah, banyak pengangguran dengan dampak derivative lainnya, tekanan-rusak terhadap hutan Taman Nasional Tana Daru dan Manu Peu serta hutan-hutan penyangga lainnya akan tinggi dalam beberapa tahun.
Korbannya adalah rakyat yang terjepit antara proteksi tambang dan hutan oleh Undang-undang.
Sementara itu, sulit diyakini bahwa SDM Sumba Tengah secepat itu ditingkatkan mutunya sehingga focus produksi ekonomi beranjak dari produksi ekonomi berbasis lahan ke produksi ekonomi berbasis jasa.
4. Kepemilikan tanah/lahan dalam tinjauan budaya Sumba
Sebagai tambahan, kepemilikan tanah di Sumba pada umumnya berupa tanah ulayat yaitu tanah milik suku (Kabisu). Karena itu sangat erat kaitannya dengan adat dan ritual adat yang memakai hewan dan hasil panen. Masyarakat sumba akan sulit melepaskan tanahnya karena melewati proses adat serta pertimbangan adat itu sendiri menyulitkan pengambilan keputusan. Kecuali tanah yg sudah digarap secara turun temurun, dapat diakui sebagai tanah hak milik perseorangan. Sedang tanah berupa padang yang belum digarap adalah milik suku. Karena itu, pembebasan tanah pun melibatkan banyak orang dalam satu suku (Kabisu) satu suku.
Jika ada suku yag kehilangan tanah, misalnya karena dibebaskan untuk tambang, maka suku itu kesulitan memperoleh lahan untuk digarap, selama-lamanya. Karenanya, keberadaan tambang akan berdampak buruk pada tatanan sosial budaya masyarakat dari ujung-ujungnya adalah masalah sosial yang akut.

5. Emas di atas tanah : pertanian dan perternakan.
Masyarakat sumba tengah sudah hidup turun temurun dari pertanian dan peternakan. Bahkan PDRB Sumba Tengah 62 % berasal dari pertanian (data 2010). Ini berarti bagi masyarakat Sumba Tengah sangat cocok untuk bertahan dalam pertanian yang disertai peningkatan produksi, pengolahan dan pemasaran.
Transformasi paksa ke sektor pertambangan adalah sangat sulit saat ini karena SDM yang rendah akan sulit terserap banyak sebagai tenaga kerja di pertambangan. Ketika alat berat bekerja siang dan malam maka yang dibutuhkan hanyalah tenaga terampil. Karena itu, masyarakat sekitarnya hanya sebagai penonton dan pada akhirnya menjadi masalah tersendiri bagi pertambangan itu sendiri. Hal ini dapat diamati dari kasus-kasus daerah lain. Haruskah Sumba Tengah pada khususnya atau Sumba pada umumnya mengalaminya sendiri?
Mengapa emas di atas tanah yaitu pertanian dan peternakan tidak diteruskan saja yang menjamin semakin tingginya daya dukung lingkungan serta ketersediaan lahan yang pasti dalam waktu ratusan bahkan ribuan tahun?

Kesimpulan:
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka dengan ini saya dan berbagai elemen masyarakat Sumba mendesak pemerintah dari pusat sampai daerah untuk menghentikan aktivitas pertambangan yaitu termasuk aktivitas eksplorasi yang sudah mendapatkan perlawanan saat ini.
ATAU setidak-tidaknya, diperlukan analisa daya dukung struktur geologi dan peta aliran sungai bawah tanah serta letak reservoir air secara persis untuk kembali mempertimbangkannya kembali.
Saat ini kami menolak secara mutlak tanpa syarat yaitu tidak bergantung kepada berapa besar kandungan emas /ton tanah dan juga sebaran serta jumlah deposit emas di kawasan pegunungan Tana Daru dan sekitarnya.

Sumber : http://kebamoto.wordpress.com

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Followers