Senin

Situs Megallit LAI TARUNG



Obyek ini merupakan obyek kampung Adat Megalitik dengan menhir kuburan kuno sejak purbakala dengan berbagai ornament ukiran antara lain; Ukiran Manusia, ayam, kuda, kerbau,mamuli(hiasan telinga atau kalung pada leher manusia)juga sebagai mas kawin (mahar). Di kampung Adat ini sering dilakukan upacara Adat setiap tahunnya yang telah dilakukan secara turun temurun.

Lokasi situs berada di kecamatan Katiku tana, Desa Makateri Sumba Tengah. Dengan ketinggian 700 M diatas permukaan laut (dpl). Daya tarik lainnya adalah pesona alam yang indah dan masih alami dengan iklim yang sejuk, kehidupan tradisional masyarakat akan menambah daya tarik khasanah alam yang mempesona dan sullit untuk dilupakan. Fasilitas yang sudah tersedia adalah ; Sumber air dari PDAM dan penerangan dari PLN. Transportasi dapat ditempuh melalui darat dari Waikabubak - Sumba Barat dan Waingapu Ibu Kota Sumba Timur.

Wisata Budaya di Pulau Sumba

Mengawali wisata budaya di bumi Marapu Sumba Barat anda akan mendapatkan masyarakat yang mendiami perkampungan-perkampungan adat yang dikelilingi pagar-pagar batu yang tersusun rapih di atas puncak-puncak bukit. Fenomena tersebut erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat purba yang diwarnai dengan pertikaian antar suku.

Perjalanan wisata menelusuri perkampungan adat, Anda akan menyaksikan kemegahan kuburan Batu Megalitik. Kepercayaan Marapu menyakini bahwa rumah dan kuburan batu adalah simbol kehidupan dan kematian. Lokasi perkampungan adat dapat dijumpai di semua kecamatan.

PasolaPasola adalah salah satu bentuk ritual budaya kebanggaan masyarakat Sumba Barat.
Pada saat pelaksanaan Pasola, kedua kubu yang berlawanan secara adat dengan cara menunggang kuda sambil yang sedang berlari kencang mengejar dan melempari lawan dengan sebatang kayu / tombak. Keberhasilannya ditandai dengan tetesan darah yang mengalir dari tubuh lawan. Apabila ada kecelakaan dalam pertandingan tersebut maka tidak ada sangsinya. Pasola digelar secara ketat sekali dalam setahun di bulan Pebruari berawal dari Kodi, Lamboya, Gaura dan kemudian berakhir di Wanokaka pada bulan Maret.

Wulla Podu disebut juga dengan Bulan Pemali merupakan suatu ritual budaya yang sangaat misterius, unik, dan menarik. Ritual Wulla Podu yang digelar secara ketat dan sakral selama bulan Nopember setiap tahun berawal dari kemah suci di kampung Tarung yang disebut dengan Uma Rowa Uma Kalada. Pelaksanaan Wulla Podu ditandaai pula dengan adanya larangan-larangan tidak boleh meratapi orang mati, tidak boleh membunyikan bunyi-bunyian dan tidak boleh menyelenggarakan pesta. Pada puncak penyelenggaraan ritual Wulla Podu di tandai pula dengan digelarnya atraksi kesenian dan berbagai permainan rakyat. Lokasi pelaksanaan Wulla Podu yakni di kampung Tarung yang terletak di tengah kota Waikabubak dan Kampung Bondo Maroto kurang lebih 30 menit kearah Utara kota Waikabubak.

Bijalungu Hiupaana merupakan nama sebuah gua alam yang terletak di Desa Taramanu, Kecamatan Wanokaka sekitar 18 km dari kota Waikabubak. Setiap tahun, tepatnya pada bulan Januari di tempat ini digelar event Bijalungu Hiupaana yaitu upacara sakral marapu yang dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, pemurnianan diri, memprediksi hasil panen yang akan datang serta untuk mempersiapkan alat-alat pertanian. Upacara ini di rayakan dengan mempersembahkan makanan dan minuman berupa hewaan kerbau, babi, dan ayam seraya melantunkan nyanyian, tarian dan kalimat-kalimat magis marapu.

Purunga Taliang Marapu merupakan ritual budaya yang bernuansa sakral. Ritual budaya ini diselenggarakan sekali dalam setahun dalam bentuk doa dan persembahan kepada dewa Marapu. Ritual ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus memprediksi hasil panen yang akan datang.
Dalam pelaksanaan upacara ini digelar pula aneka tarian, aneka nyanyaian yang berisikan petuah / wejangan. Wilayah pelaksanaannya pada desa Umbu Pabal, kecamatan Katikutana sekitar 38 km dari ibukota Waikabubak. Berlangsung selama 4 hari pada minggu pertama bulan Oktober.
Tarian daerah Sumba Hampir disemua kecamatan mempunyai tarian daerah antara lain Kataga, Woleka, Gaza, Nego, Dokale, Elang, dll.

Minggu

Pulau Mangudu ( Sumba Timur )


Pulau Mangudu adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Samudra Hindia dan berbatasan dengan negara Australia. Pulau Mangudu ini merupakan bagian dari wilayah pemerintah kabupaten Sumba Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau ini berada di sebelah selatan dari pulau Sumba dengan koordinat 10° 20′ 8″ LS, 120° 5′ 56″ BT, termasuk wilayah kecamatan Karera.

Pulau ini ditumbuhi alang-alang dan beberapa kumpulan pohon keras ini pernah dikelola oleh seorang pebisnis pariwisata dari Australia, karena eloknya pulau tersebut dan ciri gelombangnya sangat nyaman untuk selancar.. sekarang kepemilikan asing sudah kembali kepada pemda, sehingga pulau ini sekarang kosong. Pulau mangudu bisa dijangkau dari Dusun Katunduh dengan perahu yang dimiliki haji Daeng menjadi urat nadi transportasi antara pulau kotak dan lahaluru dengan daratan Sumba.

Dengan perahu yang berukuran cukup besar itu, masyarakat pulau Labaluru bisa membawa hasil laut dan kebun mereka untuk dijual di sumba. begitu pula untuk menjangkau Pulau Mangudu dari katunduh, perahu Haji Daeng menjadi satu-satunya alternatif transportasi ke pulau itu

Selasa

Pulau Sumba, Wisata Tradisional di Tengah Modernitas


INGIN melihat keaslian perkampungan tua di zaman modern ini? Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) tempatnya. Sumba memberikan panorama kontras yang unik.
Di satu sisi, tawaran dunia modern tak terelakkan dan terpaksa berhadapan dengan warisan tradisi masa lalu yang sangat kental di sisi yang lain.

Sumba ternyata bukan sekadar padang sabana, yang akrab dengan ringkikan kuda sandel. Juga, bukan sekadar menawan mata ketika kaum pria mempertontonkan kemahiran berkuda, dengan tubuh duduk tegap di punggung kuda mengiring ternak gembalaannya.
Pulau yang dikenal sebagai Pulau Sandelwood ini menyimpan situasi kontras yang tampak di Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat. Sepintas, kota ini tak berbeda dengan kota kabupaten lain di NTT. Sejumlah ruas jalan sudah licin berlapis hotmix, yang meliuk-liuk di bawah perbukitan. Namun, kalau kaki berbelok arah untuk menapaki bukit, di sana akan ditemui kehidupan dengan deretan rumah tradisional yang seolah tak terjangkau perubahan zaman.

Di kota ini, ada sejumlah kampung tua yang bisa dinikmati keasliannya, seperti Kampung Tarung, Tambelar, Desa Elu, Bodo Ede, dan Kampung Paletelolu. Kampung Tarung, misalnya, merupakan kampung tua yang terletak persis di jantung kota. Sama dengan yang lain, kampung ini dipenuhi dengan deretan rumah menara beratap ilalang, rumah tradisional khas Sumba.



Rumah tradisional Sumba terdiri dari tiga bagian. Lantai paling dasar merupakan kandang ternak (kuda). Kemudian, lantai dua merupakan tempat keluarga, tempat tidur dan perapian terletak persis di bagian tengah. Sedangkan, bagian menara merupakan gudang atau tempat menyimpan persediaan pangan.

Nuansa masa lalu kian sempurna ketika rumah tradisional itu berpadu dengan kuburan batu, yang mengingatkan kehidupan masa megalitikum—zaman batu besar—salah satu babak zaman prasejarah. Tak salah lagi, Sumba merupakan sorga bagi peneliti megalit.
Di setiap sudut kota dan kampung begitu mudah Anda menemukan menhir—batu besar seperti tiang atau tugu yang ditegakkan di tanah, sebagai tanda peringatan dan lambang arwah nenek moyang. Begitu juga dolmen—monumen prasejarah berupa meja batu datar yang ditopang tiang batu, dalam berbagai ukuran sangat mudah dijumpai di setiap kampung.

Berbagai ornamen masa lalu itu tidaklah berdiri sendiri, melainkan terkait erat kehidupan sebagian masyarakat Sumba yang menganut agama tradisional Marapu. Marapu merupakan agama asli orang Sumba sebelum disentuh pengaruh agama Kristen. Kini, komunitas Marapu semakin terdesak seiring tak ada jaminan dari negara akan eksistensi dari keyakinan di luar enam agama resmi negara.
Meski tanpa pengakuan dari negara, komunitas Marapu tetap eksis dalam menjalankan upacara keagamaan, termasuk upacara kelahiran, perkawinan, kematian, dan syukuran. Bahkan, komunitas Marapu di wilayah Kota Waikabubak mengenal adanya wula podu (bulan suci) selama satu bulan sekitar Oktober dan November setiap tahun.

Upacara perkawinan tidak kalah menyimpan daya tarik. Namun, ini membutuhkan keberuntungan wisatawan untuk menyaksikan upacara perkawinan, terutama ketika terjadi pembicaraan mengenai belis (mas kawin). Sebab, belis dalam rupa ternak itu bisa mencapai puluhan ekor kuda, kerbau dan sapi yang harus diserahkan ke keluarga perempuan. Apalagi, kalau perkawinan itu melibatkan kaum “darah biru”.
Selain upacara wula podu, komunitas Marapu di Sumba Barat juga mempunyai upacara adat pasola, yang sangat atraktif. Sama dengan wula podu, pagelaran pasola dilakukan berdasarkan perhitungan kaum tetua adat. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi wisatawan untuk merencanakan perjalanan.

Pasola merupakan perang berkuda yang melibatkan dua kelompok besar pasukan berkuda dan saling menyerang dengan senjata lembing kayu. Pasola digelar sekali dalam setahun, antara Pebruari dan Maret di empat wilayah di Sumba Barat, yakni di Wanokaka, Lamboya, Gaura dan Kecamatan Kodi.

Kecuali wula podu dan pasola, upacara kematian juga menyimpan pesona budaya tersendiri. Seseorang yang meninggal dunia, tidak akan serta merta dikuburkan. Tapi, bisa dibiarkan antara tiga sampai satu pekan di rumah sebelum dimakamkan. Setiap hari, keluarga duka harus menjamu tamu yang melayat dengan makanan dan minuman.



Pulau Sumba sesungguhnya bukan hanya menawarkan wisata budaya. Pesona alamnya pun tak kalah memikat. Setelah letih menyaksikan objek budaya, wisatawan bisa menyegarkan diri dengan menyaksikan air terjun di Weikelo Sawah, sekitar 9 km dari Waikabubak. Air terjun yang pernah dimanfaatkan sebagai sumber listrik itu menawarkan panorama yang alami, dengan sumber air dari gua yang cukup besar.



Sumber : http://travel.indoprofile.com

Kamis

Ayo ke pulau Sumba..

Wisata Sumba

Pulau Sumba dapat dicapai melalui udara lewat dua bandaranya. Bandar udara Tambolaka di Sumba Barat Daya dan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur.

Penerbangan dilayani setiap hari oleh Merpati, Batavia dan Transnusa. Dari Jakarta pesawat akan transit di Denpasar, Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau ini. Penerbangan oleh Merpati bertujuan akhir ke Kupang, dengan jalur Denpasar-Tambolaka-Waingapu-Kupang dan sebaliknya. Perjalanan udara dari Tambolaka ke Waingapu memakan waktu kurang dari 10 menit, saat yang tepat untuk mengamati Sumba dari udara.

Pulau ini juga bisa dicapai melalui laut dari pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat dan Kupang, Nusa Tenggara Timur.



Transportasi

Jangan lupa membawa peta pulau maupun peta kota untuk memperkirakan jarak dan lokasi. Peta dapat diunduh dari beberapa situs panduan perjalanan.

Kondisi jalan utama yang menghubungkan kota-kota utama di Sumba sudah relatif baik. Jalan-jalan yang lebih kecil masih banyak mengalami kerusakan, berlubang dan berlumpur saat hujan. Ada beberapa jembatan yang masih dalam perbaikan sehingga pengendara kendaraan bermotor harus menyeberangi sungai.

Transportasi umum tersedia pada jalur-jalur utama. Angkutan antar kota menggunakan mobil elf, biasanya sangat penuh sampai penumpang bergelantungan di pintu dan atap mobil. Jalur menuju daerah yang lebih terpencil dilayani oleh beberapa truk dengan jadwal tak menentu.

Dua kota besarnya, Waingapu dan Waikabubak dapat dicapai dengan travel seharga Rp 50 ribu dengan waktu tempuh 5 jam. Travel akan menjemput dan mengantar penumpang ke tempat tujuan.

Pengelola hotel biasanya bisa membantu mencari motor maupun mobil yang disewakan. Tarif penyewaan motor lengkap dengan pemandu Rp 200 ribu. Adapun tarif sewa mobil mulai Rp 400 ribu.

Kuliner dan suvenir

Hampir tidak ada makanan khas yang dijual di Sumba. Ditambah lagi, jarang sekali ada warung yang menjual makanan. Tempat makan hanya ada di pusat kota. Meski sebagian besar penduduk beragama Kristen, makanan halal dapat diperoleh dengan mudah. Jika ingin pergi jauh seharian ke daerah terpencil, sangat disarankan untuk membawa bekal dari kota.

Oleh-oleh khas Sumba adalah ikat tenun. Beberapa kampung adat juga merupakan penghasil ikat tenun terbaik. Sempatkan melihat proses tenun dan pewarnaan dengan menggunakan bahan alami yang didapat dari alam. Motif tenunan berbeda di masing-masing daerah. Sumba barat punya tenunan bermotif lebih sederhana dari Sumba Timur.



Penginapan

Ada beberapa pilihan penginapan murah seharga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu, terutama di ibukota kabupaten. Biasanya hotel juga menyediakan transportasi dari dan menuju bandara. Ada pula pilihan untuk menginap di resort berbintang seperti Nihiwatu di Sumba Barat.

Pilihan waktu terbaik

Wisatawan yang berkunjung pada musim hujan akan bertemu Sumba yang hijau, basah dan bersyukur atas hujan. Padang sabana terbentang seperti karpet hijau sejauh mata memandang.

Mengunjungi Sumba pada musim hujan artinya harus siap menembus jalan yang berubah menjadi kolam berlumpur. Pada umumnya kondisi jalan utama Sumba sudah cukup bagus. Namun untuk menuju pantai maupun kampung adat di pedalaman, perjalanan harus melewati jalan tanah yang akan becek ketika hujan turun.

Tak demikian keadaannya pada musim kemarau. Saat itu padang hijau akan diganti warna cokelat karena rumput kekeringan. Sumba memang masyhur dengan cuacanya yang panas dan kering. Taufik Ismail dalam puisinya yang berjudul Beri Aku Sumba menceritakan Sumba sebagai "cuaca tropika, kering tanpa hujan ratusan hari."

Saat musim panas, transportasi menuju tempat terpencil lebih mudah. Langit nampak biru dengan malam penuh bintang sehingga memungkinkan petualangan di alam bebas seperti hiking atau berkemah.



Upacara adat

Selain memperhitungkan cuaca, waktu terbaik untuk melakukan perjalanan di pulau ini adalah saat digelarnya upacara adat. Upacara yang sayang untuk dilewatkan adalah Pasola, "perang" dua pasukan berkuda dengan cara melempar lembing dari atas kuda.

Upacara adat Pasola digelar empat kali setahun di empat tempat berbeda, biasanya pada Februari dan Maret. Hanya pemuka adat yang bisa menentukan kapan tanggal pasti Pasola digelar, karena upacara ini harus dilakukan bertepatan dengan munculnya cacing Nyale dari laut.

Upacara dimulai sejak dini hari dengan kegiatan mencari nyale di pantai. Sesudahnya barulah para rato bersiap di atas kuda, tanpa pelana. Pasola merupakan kegiatan yang berisiko tinggi karena melibatkan . Peserta Pasola tak takut darah yang tumpah. Luka dianggap biasa dan kematian tak menyisakan dendam.

Adapun pada bulan Oktober atau November terdapat upacara penutupan Wula Podu di Waikabubak, Sumba Barat. Wula podu adalah bulan larangan yang berlaku di Kampung Tarung, Prai Klembung dan Waitabar. Pada bulan larangan para penghuni kampung banyak dilarang melakukan berbagai kegiatan - bahkan tak boleh menangisi keluarga yang meninggal. Pada akhir Wula Podu penduduk mengadakan pesta adat yang sangat meriah dengan korban binatang dan tari-tarian.

Upacara pemakaman juga menjadi atraksi menarik bagi para turis. Pemeluk kepercayaan Marapu percaya bahwa orang mati membutuhkan bekal untuk pergi ke alamnya. Jenazah akan dibungkus dengan berlapis-lapis kain tenun, diiringi dengan penyembelihan korban hewan dalam jumlah banyak. Puluhan kerbau, puluhan babi dan ratusan ayam dipercaya bisa menjadi bekal almarhum menjadi roh penghuni Marapu.

Semua upacara ini tidak diadakan secara teratur menurut kalender masehi. Untuk mengetahui kapan upacara-upacara ini diadakan, sebaiknya hubungi biro perjalanan maupun hotel sebelum merencanakan perjalanan.

Minggu

Chance of a lifetime Income from the "WAZZUB".

"WAZZUB" IS A POTENTIAL NEW COMPETITORS "GOOGLE" WILL GIVE SOME ADVANTAGE OBTAINED BY THE COMPANY.
The new WAZZUB will be launching on date 9 April 2012.
http://signup.wazzub.info/?lrRef=2c31db1d
Read the narrative of "WAZZUB" it let more familiar:


I - Google
You certainly know companies such as Google or Yahoo!. And you certainly know also how much they earn. Don't know? Here is the answer: they get billions of Dollars each year (JUST Google earned $ 29.000.000.000 in 2010) it's thanks to our use of their services. Google offers many services. But 95% of its revenues ($ 27.550.000.000) is derived from only one service only: search engine courtesy of their famous, Google Search.
Each user who uses the Google Search makes Google gets about $ 1/day. Imagine if you could get only 0.001% of the revenue Google Search: $ 275.000/year (about $ 23,000/month). The problem is: you're not going to get it because Google keeps ALL of his income for himself.

II - Wazzub, "User Revolution"

In 2007, someone thinks: "we, the users make them earn billions and we didn't get a single penny - ever. It was very disgusting ". Then, WAZZUB. Wazzub is a search engine, like Google, which will give you money for referring people to join our members. You will get a $ 1/month, for life, for every user that joins the Wazzub using your referral link. And you also get a $ 1/month, a lifetime, every time someone joined your group (for example: you will earn $ 1 if a friend you invite someone to join, but you will also get $ 1 if friends of friends that You invite someone to join also, etc..).
You can try out their calculators to see how it can easily to get $ 4000\/month without any effort. You just have to invite five people to do the same thing in 5 levels. This can be done with a quick easy & only by telling your friends and by posting in the forum on the Internet as I do today. $ 4000/month, for life, just to tell your friends to join a website. It sounds incredible, doesn't it? And it's true. list of direct HERE

III - Wazzub-why pay so much for its users?

You might wonder why Wazzub pay you to invite people to join. Actually, the answer is quite simple: the more visitors they get, the more they get paid. Remember, Google gets $ 1 per user PER day. Wazzub will pay you $ 1 per user PER month. So it is still beneficial to Wazzub. http://signup.wazzub.info/?lrRef=2c31db1d

IV - Take your decision

You have to take decisions very quickly: join now, start to tell your friends and get a $ 50, $ 1000, $ 4000 or even more per month for your entire life. Or wait and see if WAZZUB is totally legit ... But be careful: Wazzub will not share the results of the revenues to members who joined after April, 9, 2012.

In fact, they considered that after 3 months they will have enough members and they do not have to pay to get more members in a more and more.

So join now, free, and invite your people are a lot more before 9 April 2012. After that, it will be too late. You have 3 months to change your life.

V - Nothing else needs to be said, it's time to register for > > http://signup.wazzub.info/?lrRef=2c31db1d

You must, and you'll pay nothing for register. Absolutely free.
go here http://signup.wazzub.info/?lrRef=2c31db1d

Enter the email & Your data, click on the button "Join" and ... that's all.
Then, you will immediately receive an email with important information and your referral link.

VI - Tell everyone about Wazzub

Important things to remember is: the faster you for posting on forums, tell your friends, etc. .. people will sign up with your referral link.

Wazzub is a new one You will be one of the first in the world to know about it. Do not throw away this opportunity, immediately list
You can copy and paste this eBook and announce it with your own referral link, No Problem.

ANYWAY FREE. ... TRY THE LIST ... ... The PAYMENT SYSTEM at the TIME of the LAUNCHING of the INFORMATION AWAITED: 9 APRIL 2012.
You can copy and paste this eBook and announce it with your own referral link, No Problem.

ANYWAY FREE ... TRY THE LIST... ... WHILE STILL FREE, AWAITED PAYMENT SYSTEM at the TIME of LAUNCHING INFORMATION: 9 APRIL 2012.

Kamis

Marapu

Marapu adalah sebuah aliran kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Aliran ini ini merupakan kepercayaan yang memuja nenek moyang dan leluhur. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk aliran kepercayaan ini

Pemeluk aliran kepercayaan ini percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal, di dunia roh, di surga Marapu, yang dikenal sebagai Prai Marapu.Agama Marapu adalah “kepercayaan asli” yang masih hidup dan dianut oleh orang Sumba di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Adapun yang dimaksud dengan aliran kepercayaan Marapu ialah sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemujaan arwah-arwah leluhur (ancestor worship). Dalam bahasa Sumba arwah-arwah leluhur disebut Marapu , berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Karena itu kepercayaan yang mereka anut disebut Marapu pula. Marapu ini banyak sekali jumlahnya dan ada susunannya secara hirarki yang dibedakan menjadi dua golongan, yaitu Marapu dan Marapu Ratu. Marapu ialah arwah leluhur yang didewakan dan dianggap menjadi cikal-bakal dari suatu kabihu (keluarga luas, clan), sedangkan Marapu Ratu ialah marapu yang dianggap turun dari langit dan merupakan leluhur dari para marapu lainnya, jadi merupakan marapu yang mempunyai kedudukan yang tertinggi. Kehadiran para marapu di dunia nyata diwakili dan dilambangkan dengan lambang-lambang suci yang berupa perhiasan mas atau perak (ada pula berupa patung atau guci) yang disebut Tanggu Marapu. Lambang-lambang suci itu disimpan di Pangiangu Marapu, yaitu di bagian atas dalam menara uma bokulu (rumah besar, rumah pusat) suatu kabihu. Walaupun mempunyai banyak Marapu yang sering disebut namanya, dipuja dan dimohon pertolongan, tetapi hal itu sama sekali tidak menyebabkan pengingkaran terhadap adanya Yang Maha Pencipta. Tujuan utama dari upacara pemujaan bukan semata-mata kepada arwah para leluhur itu sendiri, tetapi kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Pencipta dan Pembuat Manusia), Tuhan Yang Maha Esa.

Selasa

PLACE OF INTEREST IN SUMBA ISLAND

The Sumba island is wellknown for its sandalwood, wild horses, incredible megalithic tombs, traditional dan primitive villages, typical hand woven textile (ikat weaving), and still untouchable beaches.

Waikabubak
Capital of West Sumba ( 1 hour drive from the Hotel). A neat little town in West part of Sumba island. right in town are very traditionnal villages you will see old graves carved in motifs of buffalo horns, man heads, horses, nude men or women symbolizing social status or wealth of the people (megalithic tombs of Kadung Tana, Watu Karagata, and Bulu Peka Mila). Tarung Village is an important ceremonial center . Local market is pleasant and display indigenous stuff

Wanokaka
Traditional and prmitive villages and old megalithic tombs , Pasola in every March.
Lamboya
Sodan village is a very important village for Marapu , there you can find holy houses (rumah nyale-rumah wula podu) and sacred places, also a drum made from human skin that can only be showed on certain occasions and in the presence of `ratos` (priest/chief). The date for Wula podu and Pasola Lamboya is decided by rato of this village, the plain on a high ridge of line of hills (the panorama is fantastic).
At Patiala is the plain where Pasola Lamboya take place, you can reach many traditional villages off the beaten path: an old anchor probably from a Portuguese vessel amazingly kept in a high hill village; holy house with eight carved bird's heads; meet ratos and see one of the two horses which first open Pasola on February. Every where around you will be welcome as if you were a member of their family; you are staying at Mr Ali`s Hotel and Mr Ali has been introduced as member of their community and rebaptized with a local name. Many beautiful ballades inland or along the coast to pristine remote beaches will gratify your days . You can often get ceremonies in Lamboya, Wula Podu,Topeng/Magowo, Pajura take place in October-November, Pasola in February, Pacuan in July-August. Yawu, weddings and burials all around the year.
Kodi:
Starting from your hotel , you will see cocoa plantation, cross a gorge watching kids washing and riding buffalos , discover a 300 year old megalithic tombs on the beachside, a pretty natural harbour, traditional villages and tombs, fine beaches and quite cheap wooden handicrafts .You will return by another road through teakwood forest, watch a very strong waterfall spurting out of a cave and facing rice fields. Pasola Kodi is in every February.

Pasola
Pasola is the name of a war tournament played by two groups of Sumbanese men riding decorated horses and flinging wooden spears at each other - really unique in the world .
Anakalang
Some villages of Anakalang are known for the largest megalithic tombs in Sumba. Anakalang is the site of the Purung Takadonga Ratu, an important mass marriage festival held every two years, on a date determined by the full moon.

Waingapu
Capital of East Sumba, It is known with the traditional Ikat weaving(Prailiu) and some megalithic tombs are also found on this area.

Umabara-Pau
Sumbanese houses,stone tombs and pretty original weaving called "Pahikung".
Rende
Rende village have several traditional style buffalo horn adorned Sumba houses and a number of massive carved stone graves. Here you can meet a well known King who explains the meaning of symbolic ikat motifs to local children to perpetuate traditions. This is also a great place to see high quality traditional Sumba Ikat.

Ikat Weaving
Ikat textile in Sumba are worked an exchanged at important ceremonies to show one's social status. At the funerals, the most exquisite textiles would be placed in the grave for use in the after world.

Nature
Matayangu & Lai Popu are large and beautiful waterfall located between Anakalang and Wanokaka, Access is through wooded hills. Manupeu National Park(Anakalang) is very interesting for flora and fauna (Sumba has many unique birds). Laputi (near Tarimbang) is a high waterfall above which is a lake with eels that you can feed. For the bravest ones, in some caves, you will cope with bats & not dangerous snakes The last crocodiles of Sumba are very difficult to see in the north part of West Sumba . Wild pigs are hunted with spears by valorous warriors full mud coated

MARAPU
Animist belief still very vivid near Hotel Sumba Nautil Resort and Lamboya region.
The essence of Marapu religion is the belief in spirituals forces including God, spirits and ancestors. Dead people can influence the world of the living and the living perform rituals in order to satisfy ancestors and sometimes ask to them for help or agreement .Humans cannot appeal to God the creator so Ancestors are placed on earth mediated through people who get special powers (concentrated in certain places or objects) . Those people are "Rato" (priests) , Dodo and Tahuli who are able to speak the spiritual language (Bahasa adat) of Ancestors. Wula Podu, Topeng, Magowo, Pajura, Pasola, Yawu are some of main Marapu ceremonies.

WULA PODU - Holy month for Marapu.
From full moon of October to full moon of November there are many prohibitions; if infringed ancestor spirits will strongly punish the infringer. At the end of Wula podu month, many ceremonies take place:

Topeng
In several villages of Lamboya, Patiala, Loli drums are beating all night long and the day after occurs the ceremony. Marapu rituals are performed by a rato, women dance and a kind of sorcerer wearing a mask amuse or frighten the audience.

Magowo
A big crowd gather at the delta of a river (Lamboya) for Marapu rituals and collective traditional fishing.

Pajura
Ritual boxing for men. It seems like they get up to all that was forbidden during the holy period! During this period, rato of Sodan village decide of the date for Pasola Lamboya.

YAWU
Yawu is ritual ceremony that take place at night to get help from the ancestors. Women dance around a fire in the middle of graveyard, drums beat, and the mysterious dialogue with ancestors begin :" Tahuli" speaks as advocate for humans, ancestors speak through the voice of "Dodo", all the dialogue is in a spiritual language(Bahasa adat) . When somebody is ill, they think ancestors are angry with this person. So they want to know why and they ask to ancestors what to do to calm down the wrath of Marapu - sometimes it works! Also when they want to built a new traditional house, Humans have to ask for agreement to Marapu.

WEDDING
First the men have to "knock at the door": go to the girl's village and bring animals to her father. He must comes two times again, giving much buffalos and horses at each time. Finally, he is obliged to offer a huge number of cattle and horses to be allowed to take away the girl. If it is not enough, the girl stay in her family; that's a great deal and a lot of money (or debts) to get a wife in Sumba!
Men have to bring horses, buffalos, gold and metalwork; bride have to bring pigs, dogs, ivory and textiles. Weddings are absolutely impossible between some clan which are in bad terms, even in modern times.

BURIAL
Death is the more important event for Sumbanese and the dead men must enter in the afterworld with all he needs. The body is dressed with several textiles and the wake last some days. During this time relatives have gathered and brought gifts (mostly animals). The last day relatives have an endless talk to determinate the value of gifts: they are bound to a system of swaps and debts all their life. Then they slaughter some of animals one of which is a horse that the dead man's spirit will ride in the afterworld. The body is buried with things needed and symbols of wealth. At 19th century, slaves were still sacrificed to follow and serve the king in the afterworld.

PACUAN
Horse races began in July and final take place in August. Those races are important for personal prestige and a good way to get money (bets are high).

FESTIVAL
A jamboree of traditional dances, costumes, music and songs occurs every year . You will see Kataga dance (a war dance that men perform with long knives and shields) and Negu dance performed by women.

Rabu

Upacara Adat Pasola dan Asal Usulnya 2


Kelanjutan dari postingan sebelumnya bahwa asal usul dari Pasola ini berasal dari skandal janda yang cantik yang terjerat dalam asmara dan saling berjanji dengan Rda Gaiparona menjadi kekasih, Namun adat tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin warga Waiwuang kembali ke kampung. Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh sukacita.
Tetapi mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. ‘Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,’ jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk kepayang itu. Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.
Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.
Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.
Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur. Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu.
Dari komentar sahabat apakah upacara adat pasola ini akan menjadikan sebuah tawuran massal, tentu tidak bahkan setelah upacara ini tidak ada rasa dendam sama sekali, jikalau ada yang terluka para pemuda menyadari itu merupakan balasan dari kesalahan oleh tuhannya.
Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.
Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri. Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona.
Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba. Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana sosial ampuh. Apalagi bagi kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.
Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan. Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau.

Upacara Adat Pasola dan Asal Usulnya 1


Upacara adat Pasola ini adalah bagian dari serangkaian upacara tradisionil yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu. Setiap tahun pada bulan Februari atau Maret serangkaian upacara adat ini dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa agar supaya panen tahun tersebut berhasil dengan baik.
Puncak dari serangkaian upacara adat yang dilakukan beberapa hari sebelumnya adalah apa yang disebut pasola. Pasola adalah ‘perang-perangan’ yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda. Setiap kelompok teridiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjakan tombak yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1,5 cm yang ujungnya dibiarkan tumpul.
Walaupun tombak tersebut tumpul, pasola kadang-kadang memakan korban bahkan korban jiwa. Tapi tidak ada dendam dalam pasola, kalau masih penasaran silakan tunggu sampai pasola tahun depannya. Kalau ada korban dalam pasola, menurut kepercayaan Marapu, korban tersebut mendapat hukuman dari para dewa karena telah telah melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan.
Pasola berasal dari kata `sola’ atau `hola’, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.
Pasola diselenggarakan di Sumba Barat setahun sekali pada bulan Februari di Kodi dan Lamboya. Sedangkan bulan Maret di Wanokaka. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.
Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabius yang harus menguasai dua keterampilan sekaligus yakni memacu kuda dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale.
Menelusuri asal-usulnya, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian kematian para pemimpin mereka.
Dalam kedukaan maha dahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat lapangan hati Rda Gaiparona, si gatotkaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih. (bersambung disini)

Air Terjun Matayangu


Bosan dengan tempat wisata yang itu-itu saja? Air Terjun Matayangu mencoba untuk memberikan suasana yang berbeda. Air terjun ini berada di Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana, Nusa Tenggara Timur. Air terjun ini masih sangat asri dan jarang dieksplor oleh manusia.

Masyarakat sekitar yang juga sangat memelihara alam sebagaimana adanya sehingga memberikan daya tarik natural yang sangat memesona dengan gemuruh air terjun bagaikan mutiara putih yang berkilau diterpa matahari siang. Kicauan burung-burung dan dedaunan yang ditiup angin akan membuat Anda merasa nyaman dan betah untuk menikmati suasana air terjun sambil berenang di kolam dengan hempasan air dari puncak tebing.

Suasana hutan musim semi dan tebing-tebing yang terjal dapat Anda saksikan jika Anda berkunjung ke objek wisata ini. Wajar saja, Air Terjun Matayangu terletak di dalam Taman Nasional Manupeu. Jika beruntung, Anda akan melihat berbagai kupu-kupu yang indah. Sebab, di taman nasional ini memang terdapat 57 jenis kupu-kupu termasuk tujuh endemik Pulau Sumba, yaitu Papilio Neumoegenii, Ideopsis Oberthurii, Delias Fasciata, Junonia Adulatrix,Athyma Karita, Sumalia Chilo, dan Elimnia Amoena.

Kurang puas dengan air terjunnya, Anda juga bisa berjalan-jalan mengelilingi taman nasional seluass 88.000 hektar ini. Terlalu luasnya, mungkin Anda tidak akan bisa menyaksikan seluruh keindahan taman nasional beserta air terjunnya dalam waktu satu hari.


Waktu terbaik yang disarankan untuk mengunjungi taman nasional ini adalah bulan Maret sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Sebab, di bulan itu lah air terjun akan memuntahkan air dengan debit yang maksimal.

Untuk mencapai taman nasional ini, Anda bisa melalui rute yang biasa digunakan oleh para wisatawan. Perjalanan di awali dengan menggunakan pesawat terbang dari Kupang menuju Waingapu sekitar 1 jam. Lalu, dari Waingapu menuju ke Waikabubak dengan kendaraan roda empat selama sekitar 2 jam.

Keramahan dan kehangatan warga sekitar dan keindahan alam serta ekosistem di dalamnya sangat menarik untuk dikunjungi. Tunggu apa lagi? Jadikan Air Terjun Matayangu di agenda liburan Anda!

Sumber : http://travel.detik.com

Pantai Konda Maloba

Di pantai ini, juga menyimpan misteri sebuah batu kubur pada pulau kecil yang berada kurang lebih 2 mil dari pantai itu. Kubur yang disebut ‘Kubur Appu Ladu’ (nenek matahari), ini belum banyak orang yang tahu. Untuk menikmati indahnya panorama alam dengan deburan ombak yang memutih, kita bisa mengikuti jalur jalan Taman Mas, lokasi pemukiman masyarakat adat terpencil, juga melalui Pantai Wanokaka, di Kabupaten Sumba Barat.

Laut yang tenang dengan air laut yang jernih, menjadi tempat bermain berbagai jenis ikan. Gargahing, kerapu merah dan putih serta berbagai jenis ikan lain terdapat di lautan itu. Di pantai itu terdapat rumah-rumah kecil milik nelayan asal Ende serta sebuah lopo permanen milik Kongwi, seorang pengusaha asal Sumba Barat yang mania pancing.





Sumber : http://neydie.student.umm.ac.id

Jumat

Pasola Ceremony

Pasola is the name of a war game tournament played by two groups of selected Sumbanese men. They riding their decorated selected horses fling wooden spears at each other. (The government allows the ritual game to take place, but the spears much the blunt). Pasola is a traditional ceremony of the Sumbanese held in the way of uniquely and sympathically traditional norms, every year in February and March and has become the focus of attention of the people since it is a part of the sacred homoge to the Marapu.
Marapu

Pasola is, above all, the most exciting ritual of Sumba-where else in the world can you see colorful horsemen trying to kill each other? Where else in the world can you see the shedding of blood, the lost of and eye, and occasional death coloring the event and being the part of the game?. The ceremony occurs during February in Lamboya and Kodi and during March in Gaura and Wanukaka. The main activity starts several days after the full-moon and coincide with the yearly arrival to the shore of strange, and multihued sea worms - nyale. The precise date of the event decided by Rato during the wula podu (the month of pasola the fasting month).

The Meaning And its Advantage
Pasola is derived from the world Sola or Hola meaning a kind of a long wooden stick used as a spear to fling each other by two opponent groups of horsemen. The horses used for this ritual are usually ridden by the brave and skilled selected men wearing traditional customes. In its wider and deeper meanings Pasola really not only is something worth looking on but also is something worth appreciating, for there are still other elements bound tightly behind it. The people of Sumba believe that the ritual has a very close link to the habit of the people since it arranges the behavior and the habit of the people so that the balanced condition between the physical - material needs and the mental-spiritual needs can be easily created; or in other words the ritual is believed to be able to crystallize the habit and the opinion of the people so that they can live happily both in earth and in heaven. In addition to it, Pasola is also believed to have close relation to the activity in agriculture field, therefore any bloodshed (of sacrificial cattle or men participating in the game) is considered the symbol of prosperity that must exist. Without blood Pasola means nothing to them. Those who die in the pasola arena are believed to have broken the law of tradition during the fasting month. Pasola that always takes risks, however, is accepted by the people in a very hospitable way and sportive.

The Origin and It‘s Legend
It is said that thousand of years ago there were three brothers-one of them named Umbu Dula coming from a village called Waiwuang (now Wanukaka) intended to collect rice in the Village of Masu Karera, in the south coast of East Sumba. They, however, lied to the villagers that they wanted to go fishing. After a long time they had not returned, the villagers become so worried that they might have been stranded, lost, or even dead, so the villagers went to search for them, but in vain. Being lonely for a long time, Umbu Dula‘s wife, Rambu Kaba, fell in love with Tedo Gai Parana, a man from Kodi, and decided to marry him. When finally the three brothers came back to Waiwuang, all the villagers greeted them with mixed feelings. Despite tje joy caused by the arrival of the three brothers, Umbu Dula began to feel sad to hear that his wife had escaped to Kodi with Tedo Gai Parana and that they had decided to get married and lived a happy life. The three brothers and the villagers then began to run after Rambu Kaba and her partner and found them on the foot of a hill. Seeing Umbu Dula among the people of Waiwuang, Rambu Kaba burst out crying but she being too ashamed refused to return to Waiwuang.

The relatives of Tedo Gai Parana, therefore, had to pay the bride price (dowries) to Umbu Dula in the form of buffaloes, horses, a set of ornaments, some spears, and swords, and a unique giff of sea - worms, called Nyale. Nyale usually, appears in February and March (several days after the full-moon). After the bride price ceremony the people of Kodi invited the Waiwuang to have a game of Pasola as remembrance of the event, so that the sorrow caused by the escaped of Rambu Kaba could be forgotten.

Since then the celebration of the time of nyale has been held with pasola games, and people connect the appearance of nyale with the harvest. The greater number of nyale appear, the more abundant harvest it will be. The pasola ceremony is usually preceded by several other rituals, done in fasting month Wula Nyale or Wula Podu such as self purification, Pajura (traditional boxing), the welcoming of nyale, which is done on the beach at dawn. These rituals are headed by ratos.

During the purification period there are a lot of prohibitions such as weeping for the died, striking gongs, wearing jingles ankles-bracellets, putting on bright dresses, killing animals, passing the pasola area, and crossing the river estuary. Affer the purification period the Pajura is held. Before the games starts the rato who leads the ritual makes an announcement of the game rules. After the announcement, to ratos throw their spears to start the game. This is immediately followed by hundreds of horse - riders racing their horses and while shouting throw their spears towards their opponents. Customarily, when someone is hurt the game will become more enthusiastic. After the games the participants return to their villages and are welcome as herois returning from the war. Then the thanksgiving ceremony is held by sacrificing castles no Marapu toask for fertile soil and bountiful harvest. This is pasola, a part of Sumbanese life; a life full of laughter and joy and hope for the bright future.

Source: www.bali-travel-online.com

JADWAL PASOLA KODI 2012 DITETAPKAN,PERANG-PERANGAN SIAP DIGELAR


Perang-perangan (war game tournament) menggunakan kuda dan tombak di Pulau Sumba siap digelar pada Februari hingga Maret 2012. Para wisatawan pun mulai berbondong-bondong mendatangi Pulau Sumba guna mengaksikan dari dekat bagaimana hebatnya perang-perangan yang dikenal dengan sebutan Pasola itu.

Pasola sendiri merupakan aksi perang-perangan yang dilakukan dua kelompok berbeda sambil berkuda. Setiap kelompok terdiri dari 100 pemuda, bahkan lebih bersenjatakan tombak yang ujungnya dibiarkan tumpul. Biasanya, dilakukan pada pukul 08.00 hingga 12.00 WITENG.

Acaranya ini bener-benar seru dan sangat menantang sekaligus mengerikan. Karena tidak jarang pasukan di kedua belah pihak ada yang menjadi korban, mulai dari luka ringan, luka berat hingga meninggal dunia. Namun, menurut keyakinan masyarakat setempat, semakin banyak korban berjatuhan, maka semakin bagus ujud ritualnya. Alasannya? Korban-korban itu mengindikasikan bahwa hasil usaha atau panen mereka di tahun berikut pasti akan melimpah. Aneh kan? Itu sebabnya banyak wisatawan dan ilmuwan ingin menyaksikan dari dekat, sekaligus meneliti apa yang melatari kepercayaan tersebut.

Waktu pelaksanaan Pasola Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya - NTT akhirnya di tetapkan para Rato Pasola dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya.

Pertemuan yang berlangsung di kantor camat Kodi senin (27/01/2012) tersebut dihadiri oleh Rato Pasola dari Kampung Mbokubani, Wainyapu dan Tossi. Dari pertemuan tersebut para rato menetapkan jadwal pasola Kodi 2012 yaitu :

13/02/2012 :
Pasola Homba Kalayo,Kec. Kodi Bangedo.

15/02/2012:
Pasola Bondo Kawango, Kec. Kodi.

16/02/2012:
Pasola Rara Winyo, Kec. Kodi.

16/03/2012:
Pasola Wainyapu, Kec. kodi Balaghar.

Sumber : Dinas Pariwisata Kab. SBD

Dengan diumumkannya jadwal ini maka pelaksaanaa Pasola Kodi 2012 sudah tetap dan pengunjung yang berasal dari luar sumba sudah bisa mengatur jadwal kedatangan ke Sumba Barat Daya.

Dalam pertemuan yang dihadiri Drs Yohanes Bora, M.pd (Kepala Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya), Camat Kodi, Perwakilan dari Kantor camat Kodi Bangedo, Sekcam Kodi Utara dan para kades tempat berlangsung Pasola juga tokoh adat ini disepakati untuk pelaksanaan Pasola ini harus tetap mempertahankan kesakralan dari Pasola dan keaslian atraksi Pasola. Selain itu diharapkan dalam pelaksanaan Pasola tidak ada atribut kampanye yang benuansa Politik khususnya di lapangan tempat berlangsungnya Pasola.

Selasa

Bintara TNI AL Bertambah 640 orang : Sersan Dua asal Waimangura raih predikat lulusan terbaik

TNI Angkatan Laut, kembali mendapat tambahan personel baru, setelah Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Dankobangdikal) Laksda TNI Sadiman,SE mengambil sumpah dan melantik 640 orang siswa Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) TNI AL Angkatan ke-31 TA. 2011, Desember 2011 lalu.

Pegambailan sumpah dan pelantikan bintara baru TNI AL tersebut di gelar di Lapangan Candradimuka Pusat Latihan dan Pendidikan Dasar Kemiliteran (Puslatdiksarmil), Kobangdikal, Juanda, Sidoarjo.

Dari jumlah lulusan tersebut, 559 diantaranya adalah bintara laki-laki dan 81 orang sisanya adalah bintara Korps Wanita TNI AL (Kowal). Dari jumlah itu pula, 146 diantaranya memiliki kejuruan Pelaut dan akan melanjutkan pendidikan Dasar Golongan di Kodikopsla, kemudian 50 orang melanjutkan pendidikannya di Komando Pendidikan Marinir dan Komando Pendidikan Dukungan Umum (Kodikdukum) mendapat siswa terbanya dengan 444 siswa bintara yang akan disebar ke Pusdikbanmin, Pusdiktek, Pusdiklek, Pusdik Pomal dan Pusdikes.

Jumat

Menengok Kuburan Kerajaan Karera Dari Mamuli Cantik Hingga Batu Kubur Unik

SUMBA Timur mungkin tidak asing labih bagi publik. Menyebut nama kabupaten di ujung timur Pulau Sumba, bayangan kita adalah kuda sandelwood dan budaya marapu. Tahukah Anda, selain kuda, budaya marapu, eksotisme alamnya, di daerah ini juga menyimpan keindahan lain yang selama ini lepas dari perhatian publik, yakni Kuburan dan Istana Kerajaan Karera.

Selama ini, bicara Sumba Timur dan kampung adatnya yang terbayang oleh kita Kampung Adat Praiawang Rende dan Prailiu. Kampung Wunga mungkin masuk dalam bayangan juga. Tetapi itu bagi orang yang pernah sampai ke kampung adat tersebut.
Wajar saja kampung adat ini begitu terkenal karena aksesnya mudah dan tidak begitu jauh dari Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Namun jika Anda seorang petualang, dan ingin mengetahui Sumba Timur secara utuh, maka tidak lengkap jika tidak sampai ke daerah paling selatan Sumba Timur ini, Nggongi, Kecamatan Karera.
Secara umum daerah ini cukup subur. Selain sawah tadah hujan, daerah ini juga menjadi salah satu sentra produksi tanaman perkebunan di Sumba Timur. Itu sebabnya sebagian besar penduduknya bermatapencaharian bertani dan beternak.

Bagian selatan dari kecamatan ini langsung berhadapan dengan lautan lepas Samudera Pasifik. Kalau masih sulit untuk membayangkan daerah ini ada di mana? Mungkin yang paling gampang ingat Pulau Mengudu, sebuah pulau di Selatan Pulau Sumba yang pernah menjadi pusat perhatian secara nasional dengan isu kepemilikan oleh seorang pengusaha asal Australia, Mr. David. Nah, Nggongi ini berhadapan langsung dengan Pulau Mengudu.

Jarak dari Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur ke daerah ini sekitar 60 km. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Untuk sampai ke daerah ini membutuhkan waktu sekitar empat jam. Kalau dilihat dari jarak sebenarnya, waktu tempuh empat jam terlalu lama.

Kuburan Megalitik Kebanggaan Orang Sumba

BAGI masyarakat Sumba umumnya dan Sumba Barat khususnya, batu kubur megalitik merupakan warisan leluhur yang harus dipelihara dan dipertahankan.
Kuburan megalitik mudah saja ditemukan, baik di halaman rumah warga maupun di setiap perkampungan adat. Misalnya, di kampung adat Bondo Maroto, Tambelar, Tarung, dan Prairame.

Kuburan batu megalitik juga ada di Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Timur. Tradisi di setiap kampung hampir sama saja.
Keberadaan batu kubur megalitik lengkap dengan ornamen yang kita jumpai di Pulau Sandelwood ini merupakan lambang kebanggaan atau kebangsawanan atau kebesaran orang Sumba.

Tidak semua orang Sumba mampu membuat batu kubur besar karena membutuhkan biaya yang sangat besar. Puluhan ekor hewan dipotong, seperti ayam, anjing, babi, sapi dan kerbau selama menjalankan ritual adat, mulai dari pemotongan batu kubur, penarikan batu kubur hingga pengerjaan batu kubur. Jumlah hewan yang dibantai berkisar 50-an ekor. Ini belum terhitung ayam dan anjing.

Karenanya, sebelum memulai kerja, pemilik batu kubur beserta segenap keluarga besar harus mempersiapkan diri lebih matang agar pelaksanaan pengerjaan batu kubur berjalan lancar sesuai rencana yang telah disepakati.
Tidak semua batu kubur boleh atau dapat digunakan untuk menguburkan keluarga yang meninggal. Dalam adat-isitiadat setempat, ada sebutan batu kubur `pemali’. Batu itu berkaki empat dan memiliki ornamen.

Mamuli

Perhiasan emas memiliki peran penting dalam marapu, kepercayaan adat yang masih dipraktekkan di pulau Sumba, Indonesia Timur. Dalam ritual serah terima hadiah yang menyertai upacara pernikahan, kunjungan persahabatan dan ritual lainnya, perhiasan emas dan benda-benda logam yang secara simbolis dianggap maskulin, akan dipertukarkan dengan kain yang secara simbolis dianggap feminin. Benda yang dianggap paling penting dalam adat Sumba ini adalah perhiasan emas berbentuk Omega yang disebut Mamuli.
Jaman dahulu, ketika masyarakat Sumba masih melakukan kebiasaan menarik daun telinga hingga panjang, mamuli digunakan sebagai perhiasan telinga. Namun sekarang mamuli digantungkan di leher sebagai liontin atau digunakan sebagai hiasan pakaian.
Dalam kebudayaan Sumba, logam mulai dipercaya berasal dari langit.

Matahari dibuat dari emas dan bulan-bintang dibuat dari perak. Emas dan perak tertanam di bumi karena matahari dan bulan tenggelam atau karena bintang jatuh dari langit. Benda yang terbuat dari emas menunjukkan kekayaan dan berkah dari Tuhan. Mamuli disimpan bersama benda-benda keramat lainnya oleh suku Sumba dan digunakan antara lain oleh dukun sakti untuk berhubungan dengan arwah nenek moyang.

Selasa

Pesona Perkampungan Adat Wainyapu: Mencakar Langit dengan Ilalang, Mengukir Bumi dengan Kubur Megalith

Disetiap kota besar, gedung pencakar langit dapat dengan mudah ditemui. Bangunan jenis ini tentunya memiliki kontruksi beton yang kokoh. Namun pernahkah terbayang bangunan pencakar langit, yang juga cukup kokoh walaupun tidak berkontruksi beton?

Mencakar langit sejatinya tak mesti dengan gedung berkontruksi beton, namun bisa pula dengan bangunan berbahan ilalang. Di Perkampungan Adat Wainyapu, hal itu menjadi realita.

Perkampungan ini terletak Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), propinsi NTT atau berjarak lebih dari 40 Kilometer dari Kota Tambolaka (Kota Kabupaten SBD). Perkampungan ini cukup tua. Menuju kampung ini, pengunjung akan disambut dengan hamparan kuburan batu megalith pada hamparan tanah lapang depan perkampungan.

Memasuki perkampungan, mata pengunjung akan dimanjakan bangunan rumah adat dengan menara menjulang tinggi bagai mencakar langit. Bangunan tradisional di sini tidak sedikitpun menggunakan unsur logam, semacam paku misalnya namun cukup kokoh menantang langit.

Lindungi Burung Endemik dari Kepunahan: Warga Rela Patroli Tanpa Alas Kaki, Kampanye Lewat Radio Komunitas

Tak hanya Komodo, Indonesia sebenarnya kaya akan satwa endemik yang layak dibanggakan dan perlu mendapat perhatian. Aneka jenis burung endemik di pulau Sumba,NTT, misalnya, kini populasinya terancam punah akibat perburuan liar. Perlu keterlibatan serius yang dilandasi rasa cinta dari berbagai kalangan untuk melestarikannya.
Di Sumba, beberapa tahun terakhir ada kelompok warga yang secara rutin menggelar patroli swadaya sebagai bentuk kepedulian. Pagi dan sore, dua kali dalam seminggu dan dalam jumlah yang tak tentu warga desa Manurara, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH) melakukan aksi patroli.
Tidak seperti lazimnya patroli yang kerap dilakukan oleh aparat polisi hutan dan pengelola Taman Nasional yang mengenakan atribut lengkap, seperti sepatu bot, seragam dan senjata. Warga di sana justru tak beralas kaki dan hanya mengenakan pakaian seadanya.

Followers