Selasa

Bintara TNI AL Bertambah 640 orang : Sersan Dua asal Waimangura raih predikat lulusan terbaik

TNI Angkatan Laut, kembali mendapat tambahan personel baru, setelah Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Dankobangdikal) Laksda TNI Sadiman,SE mengambil sumpah dan melantik 640 orang siswa Pendidikan Pertama Bintara (Dikmaba) TNI AL Angkatan ke-31 TA. 2011, Desember 2011 lalu.

Pegambailan sumpah dan pelantikan bintara baru TNI AL tersebut di gelar di Lapangan Candradimuka Pusat Latihan dan Pendidikan Dasar Kemiliteran (Puslatdiksarmil), Kobangdikal, Juanda, Sidoarjo.

Dari jumlah lulusan tersebut, 559 diantaranya adalah bintara laki-laki dan 81 orang sisanya adalah bintara Korps Wanita TNI AL (Kowal). Dari jumlah itu pula, 146 diantaranya memiliki kejuruan Pelaut dan akan melanjutkan pendidikan Dasar Golongan di Kodikopsla, kemudian 50 orang melanjutkan pendidikannya di Komando Pendidikan Marinir dan Komando Pendidikan Dukungan Umum (Kodikdukum) mendapat siswa terbanya dengan 444 siswa bintara yang akan disebar ke Pusdikbanmin, Pusdiktek, Pusdiklek, Pusdik Pomal dan Pusdikes.

Jumat

Menengok Kuburan Kerajaan Karera Dari Mamuli Cantik Hingga Batu Kubur Unik

SUMBA Timur mungkin tidak asing labih bagi publik. Menyebut nama kabupaten di ujung timur Pulau Sumba, bayangan kita adalah kuda sandelwood dan budaya marapu. Tahukah Anda, selain kuda, budaya marapu, eksotisme alamnya, di daerah ini juga menyimpan keindahan lain yang selama ini lepas dari perhatian publik, yakni Kuburan dan Istana Kerajaan Karera.

Selama ini, bicara Sumba Timur dan kampung adatnya yang terbayang oleh kita Kampung Adat Praiawang Rende dan Prailiu. Kampung Wunga mungkin masuk dalam bayangan juga. Tetapi itu bagi orang yang pernah sampai ke kampung adat tersebut.
Wajar saja kampung adat ini begitu terkenal karena aksesnya mudah dan tidak begitu jauh dari Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur. Namun jika Anda seorang petualang, dan ingin mengetahui Sumba Timur secara utuh, maka tidak lengkap jika tidak sampai ke daerah paling selatan Sumba Timur ini, Nggongi, Kecamatan Karera.
Secara umum daerah ini cukup subur. Selain sawah tadah hujan, daerah ini juga menjadi salah satu sentra produksi tanaman perkebunan di Sumba Timur. Itu sebabnya sebagian besar penduduknya bermatapencaharian bertani dan beternak.

Bagian selatan dari kecamatan ini langsung berhadapan dengan lautan lepas Samudera Pasifik. Kalau masih sulit untuk membayangkan daerah ini ada di mana? Mungkin yang paling gampang ingat Pulau Mengudu, sebuah pulau di Selatan Pulau Sumba yang pernah menjadi pusat perhatian secara nasional dengan isu kepemilikan oleh seorang pengusaha asal Australia, Mr. David. Nah, Nggongi ini berhadapan langsung dengan Pulau Mengudu.

Jarak dari Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur ke daerah ini sekitar 60 km. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat atau roda dua. Untuk sampai ke daerah ini membutuhkan waktu sekitar empat jam. Kalau dilihat dari jarak sebenarnya, waktu tempuh empat jam terlalu lama.

Kuburan Megalitik Kebanggaan Orang Sumba

BAGI masyarakat Sumba umumnya dan Sumba Barat khususnya, batu kubur megalitik merupakan warisan leluhur yang harus dipelihara dan dipertahankan.
Kuburan megalitik mudah saja ditemukan, baik di halaman rumah warga maupun di setiap perkampungan adat. Misalnya, di kampung adat Bondo Maroto, Tambelar, Tarung, dan Prairame.

Kuburan batu megalitik juga ada di Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Timur. Tradisi di setiap kampung hampir sama saja.
Keberadaan batu kubur megalitik lengkap dengan ornamen yang kita jumpai di Pulau Sandelwood ini merupakan lambang kebanggaan atau kebangsawanan atau kebesaran orang Sumba.

Tidak semua orang Sumba mampu membuat batu kubur besar karena membutuhkan biaya yang sangat besar. Puluhan ekor hewan dipotong, seperti ayam, anjing, babi, sapi dan kerbau selama menjalankan ritual adat, mulai dari pemotongan batu kubur, penarikan batu kubur hingga pengerjaan batu kubur. Jumlah hewan yang dibantai berkisar 50-an ekor. Ini belum terhitung ayam dan anjing.

Karenanya, sebelum memulai kerja, pemilik batu kubur beserta segenap keluarga besar harus mempersiapkan diri lebih matang agar pelaksanaan pengerjaan batu kubur berjalan lancar sesuai rencana yang telah disepakati.
Tidak semua batu kubur boleh atau dapat digunakan untuk menguburkan keluarga yang meninggal. Dalam adat-isitiadat setempat, ada sebutan batu kubur `pemali’. Batu itu berkaki empat dan memiliki ornamen.

Mamuli

Perhiasan emas memiliki peran penting dalam marapu, kepercayaan adat yang masih dipraktekkan di pulau Sumba, Indonesia Timur. Dalam ritual serah terima hadiah yang menyertai upacara pernikahan, kunjungan persahabatan dan ritual lainnya, perhiasan emas dan benda-benda logam yang secara simbolis dianggap maskulin, akan dipertukarkan dengan kain yang secara simbolis dianggap feminin. Benda yang dianggap paling penting dalam adat Sumba ini adalah perhiasan emas berbentuk Omega yang disebut Mamuli.
Jaman dahulu, ketika masyarakat Sumba masih melakukan kebiasaan menarik daun telinga hingga panjang, mamuli digunakan sebagai perhiasan telinga. Namun sekarang mamuli digantungkan di leher sebagai liontin atau digunakan sebagai hiasan pakaian.
Dalam kebudayaan Sumba, logam mulai dipercaya berasal dari langit.

Matahari dibuat dari emas dan bulan-bintang dibuat dari perak. Emas dan perak tertanam di bumi karena matahari dan bulan tenggelam atau karena bintang jatuh dari langit. Benda yang terbuat dari emas menunjukkan kekayaan dan berkah dari Tuhan. Mamuli disimpan bersama benda-benda keramat lainnya oleh suku Sumba dan digunakan antara lain oleh dukun sakti untuk berhubungan dengan arwah nenek moyang.

Selasa

Pesona Perkampungan Adat Wainyapu: Mencakar Langit dengan Ilalang, Mengukir Bumi dengan Kubur Megalith

Disetiap kota besar, gedung pencakar langit dapat dengan mudah ditemui. Bangunan jenis ini tentunya memiliki kontruksi beton yang kokoh. Namun pernahkah terbayang bangunan pencakar langit, yang juga cukup kokoh walaupun tidak berkontruksi beton?

Mencakar langit sejatinya tak mesti dengan gedung berkontruksi beton, namun bisa pula dengan bangunan berbahan ilalang. Di Perkampungan Adat Wainyapu, hal itu menjadi realita.

Perkampungan ini terletak Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), propinsi NTT atau berjarak lebih dari 40 Kilometer dari Kota Tambolaka (Kota Kabupaten SBD). Perkampungan ini cukup tua. Menuju kampung ini, pengunjung akan disambut dengan hamparan kuburan batu megalith pada hamparan tanah lapang depan perkampungan.

Memasuki perkampungan, mata pengunjung akan dimanjakan bangunan rumah adat dengan menara menjulang tinggi bagai mencakar langit. Bangunan tradisional di sini tidak sedikitpun menggunakan unsur logam, semacam paku misalnya namun cukup kokoh menantang langit.

Lindungi Burung Endemik dari Kepunahan: Warga Rela Patroli Tanpa Alas Kaki, Kampanye Lewat Radio Komunitas

Tak hanya Komodo, Indonesia sebenarnya kaya akan satwa endemik yang layak dibanggakan dan perlu mendapat perhatian. Aneka jenis burung endemik di pulau Sumba,NTT, misalnya, kini populasinya terancam punah akibat perburuan liar. Perlu keterlibatan serius yang dilandasi rasa cinta dari berbagai kalangan untuk melestarikannya.
Di Sumba, beberapa tahun terakhir ada kelompok warga yang secara rutin menggelar patroli swadaya sebagai bentuk kepedulian. Pagi dan sore, dua kali dalam seminggu dan dalam jumlah yang tak tentu warga desa Manurara, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pelestari Hutan (KMPH) melakukan aksi patroli.
Tidak seperti lazimnya patroli yang kerap dilakukan oleh aparat polisi hutan dan pengelola Taman Nasional yang mengenakan atribut lengkap, seperti sepatu bot, seragam dan senjata. Warga di sana justru tak beralas kaki dan hanya mengenakan pakaian seadanya.

Followers