Rabu

Upacara Adat Pasola dan Asal Usulnya 2


Kelanjutan dari postingan sebelumnya bahwa asal usul dari Pasola ini berasal dari skandal janda yang cantik yang terjerat dalam asmara dan saling berjanji dengan Rda Gaiparona menjadi kekasih, Namun adat tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin warga Waiwuang kembali ke kampung. Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh sukacita.
Tetapi mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. ‘Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,’ jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk kepayang itu. Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.
Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.
Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.
Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur. Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu.
Dari komentar sahabat apakah upacara adat pasola ini akan menjadikan sebuah tawuran massal, tentu tidak bahkan setelah upacara ini tidak ada rasa dendam sama sekali, jikalau ada yang terluka para pemuda menyadari itu merupakan balasan dari kesalahan oleh tuhannya.
Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.
Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri. Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona.
Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba. Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana sosial ampuh. Apalagi bagi kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.
Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan. Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau.

Upacara Adat Pasola dan Asal Usulnya 1


Upacara adat Pasola ini adalah bagian dari serangkaian upacara tradisionil yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu. Setiap tahun pada bulan Februari atau Maret serangkaian upacara adat ini dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa agar supaya panen tahun tersebut berhasil dengan baik.
Puncak dari serangkaian upacara adat yang dilakukan beberapa hari sebelumnya adalah apa yang disebut pasola. Pasola adalah ‘perang-perangan’ yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda. Setiap kelompok teridiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjakan tombak yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1,5 cm yang ujungnya dibiarkan tumpul.
Walaupun tombak tersebut tumpul, pasola kadang-kadang memakan korban bahkan korban jiwa. Tapi tidak ada dendam dalam pasola, kalau masih penasaran silakan tunggu sampai pasola tahun depannya. Kalau ada korban dalam pasola, menurut kepercayaan Marapu, korban tersebut mendapat hukuman dari para dewa karena telah telah melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan.
Pasola berasal dari kata `sola’ atau `hola’, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.
Pasola diselenggarakan di Sumba Barat setahun sekali pada bulan Februari di Kodi dan Lamboya. Sedangkan bulan Maret di Wanokaka. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.
Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabius yang harus menguasai dua keterampilan sekaligus yakni memacu kuda dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale.
Menelusuri asal-usulnya, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian kematian para pemimpin mereka.
Dalam kedukaan maha dahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat lapangan hati Rda Gaiparona, si gatotkaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih. (bersambung disini)

Air Terjun Matayangu


Bosan dengan tempat wisata yang itu-itu saja? Air Terjun Matayangu mencoba untuk memberikan suasana yang berbeda. Air terjun ini berada di Desa Waimanu, Kecamatan Katikutana, Nusa Tenggara Timur. Air terjun ini masih sangat asri dan jarang dieksplor oleh manusia.

Masyarakat sekitar yang juga sangat memelihara alam sebagaimana adanya sehingga memberikan daya tarik natural yang sangat memesona dengan gemuruh air terjun bagaikan mutiara putih yang berkilau diterpa matahari siang. Kicauan burung-burung dan dedaunan yang ditiup angin akan membuat Anda merasa nyaman dan betah untuk menikmati suasana air terjun sambil berenang di kolam dengan hempasan air dari puncak tebing.

Suasana hutan musim semi dan tebing-tebing yang terjal dapat Anda saksikan jika Anda berkunjung ke objek wisata ini. Wajar saja, Air Terjun Matayangu terletak di dalam Taman Nasional Manupeu. Jika beruntung, Anda akan melihat berbagai kupu-kupu yang indah. Sebab, di taman nasional ini memang terdapat 57 jenis kupu-kupu termasuk tujuh endemik Pulau Sumba, yaitu Papilio Neumoegenii, Ideopsis Oberthurii, Delias Fasciata, Junonia Adulatrix,Athyma Karita, Sumalia Chilo, dan Elimnia Amoena.

Kurang puas dengan air terjunnya, Anda juga bisa berjalan-jalan mengelilingi taman nasional seluass 88.000 hektar ini. Terlalu luasnya, mungkin Anda tidak akan bisa menyaksikan seluruh keindahan taman nasional beserta air terjunnya dalam waktu satu hari.


Waktu terbaik yang disarankan untuk mengunjungi taman nasional ini adalah bulan Maret sampai Juni dan Oktober sampai Desember. Sebab, di bulan itu lah air terjun akan memuntahkan air dengan debit yang maksimal.

Untuk mencapai taman nasional ini, Anda bisa melalui rute yang biasa digunakan oleh para wisatawan. Perjalanan di awali dengan menggunakan pesawat terbang dari Kupang menuju Waingapu sekitar 1 jam. Lalu, dari Waingapu menuju ke Waikabubak dengan kendaraan roda empat selama sekitar 2 jam.

Keramahan dan kehangatan warga sekitar dan keindahan alam serta ekosistem di dalamnya sangat menarik untuk dikunjungi. Tunggu apa lagi? Jadikan Air Terjun Matayangu di agenda liburan Anda!

Sumber : http://travel.detik.com

Pantai Konda Maloba

Di pantai ini, juga menyimpan misteri sebuah batu kubur pada pulau kecil yang berada kurang lebih 2 mil dari pantai itu. Kubur yang disebut ‘Kubur Appu Ladu’ (nenek matahari), ini belum banyak orang yang tahu. Untuk menikmati indahnya panorama alam dengan deburan ombak yang memutih, kita bisa mengikuti jalur jalan Taman Mas, lokasi pemukiman masyarakat adat terpencil, juga melalui Pantai Wanokaka, di Kabupaten Sumba Barat.

Laut yang tenang dengan air laut yang jernih, menjadi tempat bermain berbagai jenis ikan. Gargahing, kerapu merah dan putih serta berbagai jenis ikan lain terdapat di lautan itu. Di pantai itu terdapat rumah-rumah kecil milik nelayan asal Ende serta sebuah lopo permanen milik Kongwi, seorang pengusaha asal Sumba Barat yang mania pancing.





Sumber : http://neydie.student.umm.ac.id

Jumat

Pasola Ceremony

Pasola is the name of a war game tournament played by two groups of selected Sumbanese men. They riding their decorated selected horses fling wooden spears at each other. (The government allows the ritual game to take place, but the spears much the blunt). Pasola is a traditional ceremony of the Sumbanese held in the way of uniquely and sympathically traditional norms, every year in February and March and has become the focus of attention of the people since it is a part of the sacred homoge to the Marapu.
Marapu

Pasola is, above all, the most exciting ritual of Sumba-where else in the world can you see colorful horsemen trying to kill each other? Where else in the world can you see the shedding of blood, the lost of and eye, and occasional death coloring the event and being the part of the game?. The ceremony occurs during February in Lamboya and Kodi and during March in Gaura and Wanukaka. The main activity starts several days after the full-moon and coincide with the yearly arrival to the shore of strange, and multihued sea worms - nyale. The precise date of the event decided by Rato during the wula podu (the month of pasola the fasting month).

The Meaning And its Advantage
Pasola is derived from the world Sola or Hola meaning a kind of a long wooden stick used as a spear to fling each other by two opponent groups of horsemen. The horses used for this ritual are usually ridden by the brave and skilled selected men wearing traditional customes. In its wider and deeper meanings Pasola really not only is something worth looking on but also is something worth appreciating, for there are still other elements bound tightly behind it. The people of Sumba believe that the ritual has a very close link to the habit of the people since it arranges the behavior and the habit of the people so that the balanced condition between the physical - material needs and the mental-spiritual needs can be easily created; or in other words the ritual is believed to be able to crystallize the habit and the opinion of the people so that they can live happily both in earth and in heaven. In addition to it, Pasola is also believed to have close relation to the activity in agriculture field, therefore any bloodshed (of sacrificial cattle or men participating in the game) is considered the symbol of prosperity that must exist. Without blood Pasola means nothing to them. Those who die in the pasola arena are believed to have broken the law of tradition during the fasting month. Pasola that always takes risks, however, is accepted by the people in a very hospitable way and sportive.

The Origin and It‘s Legend
It is said that thousand of years ago there were three brothers-one of them named Umbu Dula coming from a village called Waiwuang (now Wanukaka) intended to collect rice in the Village of Masu Karera, in the south coast of East Sumba. They, however, lied to the villagers that they wanted to go fishing. After a long time they had not returned, the villagers become so worried that they might have been stranded, lost, or even dead, so the villagers went to search for them, but in vain. Being lonely for a long time, Umbu Dula‘s wife, Rambu Kaba, fell in love with Tedo Gai Parana, a man from Kodi, and decided to marry him. When finally the three brothers came back to Waiwuang, all the villagers greeted them with mixed feelings. Despite tje joy caused by the arrival of the three brothers, Umbu Dula began to feel sad to hear that his wife had escaped to Kodi with Tedo Gai Parana and that they had decided to get married and lived a happy life. The three brothers and the villagers then began to run after Rambu Kaba and her partner and found them on the foot of a hill. Seeing Umbu Dula among the people of Waiwuang, Rambu Kaba burst out crying but she being too ashamed refused to return to Waiwuang.

The relatives of Tedo Gai Parana, therefore, had to pay the bride price (dowries) to Umbu Dula in the form of buffaloes, horses, a set of ornaments, some spears, and swords, and a unique giff of sea - worms, called Nyale. Nyale usually, appears in February and March (several days after the full-moon). After the bride price ceremony the people of Kodi invited the Waiwuang to have a game of Pasola as remembrance of the event, so that the sorrow caused by the escaped of Rambu Kaba could be forgotten.

Since then the celebration of the time of nyale has been held with pasola games, and people connect the appearance of nyale with the harvest. The greater number of nyale appear, the more abundant harvest it will be. The pasola ceremony is usually preceded by several other rituals, done in fasting month Wula Nyale or Wula Podu such as self purification, Pajura (traditional boxing), the welcoming of nyale, which is done on the beach at dawn. These rituals are headed by ratos.

During the purification period there are a lot of prohibitions such as weeping for the died, striking gongs, wearing jingles ankles-bracellets, putting on bright dresses, killing animals, passing the pasola area, and crossing the river estuary. Affer the purification period the Pajura is held. Before the games starts the rato who leads the ritual makes an announcement of the game rules. After the announcement, to ratos throw their spears to start the game. This is immediately followed by hundreds of horse - riders racing their horses and while shouting throw their spears towards their opponents. Customarily, when someone is hurt the game will become more enthusiastic. After the games the participants return to their villages and are welcome as herois returning from the war. Then the thanksgiving ceremony is held by sacrificing castles no Marapu toask for fertile soil and bountiful harvest. This is pasola, a part of Sumbanese life; a life full of laughter and joy and hope for the bright future.

Source: www.bali-travel-online.com

JADWAL PASOLA KODI 2012 DITETAPKAN,PERANG-PERANGAN SIAP DIGELAR


Perang-perangan (war game tournament) menggunakan kuda dan tombak di Pulau Sumba siap digelar pada Februari hingga Maret 2012. Para wisatawan pun mulai berbondong-bondong mendatangi Pulau Sumba guna mengaksikan dari dekat bagaimana hebatnya perang-perangan yang dikenal dengan sebutan Pasola itu.

Pasola sendiri merupakan aksi perang-perangan yang dilakukan dua kelompok berbeda sambil berkuda. Setiap kelompok terdiri dari 100 pemuda, bahkan lebih bersenjatakan tombak yang ujungnya dibiarkan tumpul. Biasanya, dilakukan pada pukul 08.00 hingga 12.00 WITENG.

Acaranya ini bener-benar seru dan sangat menantang sekaligus mengerikan. Karena tidak jarang pasukan di kedua belah pihak ada yang menjadi korban, mulai dari luka ringan, luka berat hingga meninggal dunia. Namun, menurut keyakinan masyarakat setempat, semakin banyak korban berjatuhan, maka semakin bagus ujud ritualnya. Alasannya? Korban-korban itu mengindikasikan bahwa hasil usaha atau panen mereka di tahun berikut pasti akan melimpah. Aneh kan? Itu sebabnya banyak wisatawan dan ilmuwan ingin menyaksikan dari dekat, sekaligus meneliti apa yang melatari kepercayaan tersebut.

Waktu pelaksanaan Pasola Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya - NTT akhirnya di tetapkan para Rato Pasola dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya.

Pertemuan yang berlangsung di kantor camat Kodi senin (27/01/2012) tersebut dihadiri oleh Rato Pasola dari Kampung Mbokubani, Wainyapu dan Tossi. Dari pertemuan tersebut para rato menetapkan jadwal pasola Kodi 2012 yaitu :

13/02/2012 :
Pasola Homba Kalayo,Kec. Kodi Bangedo.

15/02/2012:
Pasola Bondo Kawango, Kec. Kodi.

16/02/2012:
Pasola Rara Winyo, Kec. Kodi.

16/03/2012:
Pasola Wainyapu, Kec. kodi Balaghar.

Sumber : Dinas Pariwisata Kab. SBD

Dengan diumumkannya jadwal ini maka pelaksaanaa Pasola Kodi 2012 sudah tetap dan pengunjung yang berasal dari luar sumba sudah bisa mengatur jadwal kedatangan ke Sumba Barat Daya.

Dalam pertemuan yang dihadiri Drs Yohanes Bora, M.pd (Kepala Dinas Pariwisata Sumba Barat Daya), Camat Kodi, Perwakilan dari Kantor camat Kodi Bangedo, Sekcam Kodi Utara dan para kades tempat berlangsung Pasola juga tokoh adat ini disepakati untuk pelaksanaan Pasola ini harus tetap mempertahankan kesakralan dari Pasola dan keaslian atraksi Pasola. Selain itu diharapkan dalam pelaksanaan Pasola tidak ada atribut kampanye yang benuansa Politik khususnya di lapangan tempat berlangsungnya Pasola.

Followers