Jumat

Perjalanan Menuju Surga: Upacara Tarik Batu

Edy Purnomo, fotografer yang sudah melanglang buana dan menghasilkan foto-foto memukau serta penghargaan untuk proyek bukunya “ Dawn Of the 21st Century”, menceritakan pada Panorama tentang perjalanannya ke Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.
Zaman neolitikum memang sudah berakhir lama, ribuan tahun yang lalu, namun orang modern tercengang mengagumi kemampuan para leluhur melakukakn hal-hal yang takterbayang betapa sulitnya. Susunan batu besar di Stonehenge Inggris tentunya sudah sering Anda dengar, bahkan mungkin sebagian dari Anda sudah pernah berwisata ke sana. Namun tak perlu jauh-jauh di

Indonesia bagian timur pun terdapat kebudayaan Neolikum yang bahkan masih berlangsung hingga hari ini.
Megalith atau adalah kumpulan batu pra sejarah berupa tugu atau monument yang tersusun dari satu atau lebih batu dengan ukuran besar. Tugu yang terdiri dari hanya satu batu besar disebut menhir, sedangkan dolmen terdiri dari dua atau lebih batu raksasa yang berdiri tegak yang menopang satu batu horizontal diatasnya. Selain menhir dan dolmen masih banyak lagi macam susunan batu-batu raksasa ini. Suatu fakta menarik selain mengenai ukurannya adalah bahwa batu-batu ini disusun kokoh tanpa bahan semen atau bahan perekat lainnya, melainkan hanya dengan sistem kuncian antar batu.
Di tengah zaman yang serba modern dan digital ini, ternyata peradaban megalitikum masih hidup di Pulau Sumba bagian barat. Kawasan ini termasuk kedalam wilayah Administrasi kabupaten Sumba Barat dengan ibukota Waikabubak, kota terbesar kedua setelah Waingapu. Masih banyak sekali orang yang mengira Sumba adalah Sumbawa, termasuk penduduk Indonesia sendiri. Kenyataannya, Sumba dan Sumbawa merupakan kawasan yang terletak di dua Propinsi berbeda. Sumba di Nusa Tenggara Timur beribukota Kupang, Sumbawa di Nusa Tenggara Barat yang beribukotakan Mataram. Kesalahpahaman ini terjadi salah satunya akibat kurangnya Informasi tentang Sumba.

Dari Bandara Umbu Mehang Kunda – dulu bernama Mau Hau – di Waingapu jarak ke Waikabubak ibu kota kabupaten Sumba Barat hanya Sekitar 137 km, tak berbeda jauh dengan jarak antara Jakarta dan Bandung. Namun karena kondisi jalan yang kurang baik jarak tersebut harus di tempuh selama 4 jam naik Mobil.
Dalam perjalanan sekitar 22 KM dari Waingapu Anda bisa berhenti sejenak di Waibakul dan Pasunga yang juga di kenal Sebagai Desa Anakalang. Pada Desa yang sangat bernuansa tradisonal ini anda bisa melihat kumpulan batu-batu megalitik berupa Batu Kubur yang merupakan kuburan para Raja dan kaum bangsawan. Masing-masing batu beratnya antara 15-70 Ton dengan hiasan ukiran indah yang menggambarkan Simbol –simbol kehidupan. Jangan lupa untuk mendatangi Batu Kubur besar yang di bangun pada tahun 30an untuk Raja Anakalang.
Selanjutnya ketika anda melanjutkan perjalanan menuju Waikabubak panorama beragam batu kubur besar dengan aneka bentuk yang fantastis akan membawa Anda seakan kembali ke masa lampau. Hal ini tidaklah mengherankan karena masyarakat pada sekitar 120 perkampungan tradisional yang berada di Sumba Barat masih tetap mempertahankan kepercayaan tradisional
yang diwariskan oleh para leluhurnya yang di namakan MARAPU. Berbeda dengan masyarakat sumba bagian timur yang sudah tak terlalu kental pengaruh adat pra sejarah seperti ini.
Kota waikabubak adalah salah satu kota kecil yang ada di Pulau Sumba yang pada jaman penjajahan Belanda dikenal sebagai kota peristirahatan. Sebagai sebuah kota yang cukup lama tertidur dengan iklim, yang lumayan dingin, kini Waikabubak mulai menggeliat untuk menunjukan potensinya. Di kota ini Anda dapat melihat langsung budaya megalitik Batu Kubur khas Sumba Barat yang begitu terkenal.
Tepat ditengah kota terdapat kampung Tarung, sebuah desa adat yang masih terjaga kelestariannya. Di kampung ini terdapat komunitas masyarakat yang tinggal dalam beberapa belas rumah adat, dan tiap rumah berisi beberapa keluarga. Hampir seluruh penghuni desa masih menganut aliran kepercayaan Marapu. Ditengah perkampungan ada sebuah lapangan tempat sebuah bangunan kecil yang di percaya sebagai rumah Tuhan berdiri dan dikelilingi beberapa Batu Kubur. Disinilah sebuah kegiatan adat di pusatkan. Mereka mempunyai hari raya, yang jatuh di bulan November setiap tahun. Saat itulah mereka berpesta dan membersihkan rumah Tuhannya dan yang boleh memasuki hanyalah pendeta dari komunitas itu.
Tugu-tugu batu yang paling dikenal dari waikabubak adalah hasil upacara adat yang dinamakan Tarik Batu. Tak ada kepastian kapan upacara ini di adakan karena prosesinya tidak mengacu ke hari-hari tertentu, melainkan tergantung pada kesiapan dari pelaku upacara tersebut. Mulai dari pemahatan batu, penggalangan masyarakat untuk datang hadir dan membantu, tarian-tarian oleh para wanita dalam balutan kain tenun ikat khas Sumbahingga prosesi penarikan batu itu sendiri, upacara ini memang membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat banyak. Seluruh prosesi bias di selesaikan dalam waktu yang cukup panjang bahkan hingga berminggu-minggu lamanya. Karena prosesi yang memakan biaya tinggi, bahkan hingga miliaran, kerap kali upacara ini diadakan untuk beberapa keluarga sekaligus, Jasad beberapa anggota keluarga, yang sudah di makamkan, dengan cara biasa sebelumnya diangkat kembali dan di pindahkan ke suatu liang yang lebih besar.
Tarik Batu sendirki merupakan upacara pemakaman yang diyakini masyarakat setempqat sebagai cara paling pantas untuk mengantar jenazah masuk keda
lam surge. Jenazah di tempatkan dengan posisi terlipat, persisi seperti posisi bayi dalam dalam kandungan. Ini menyimbolkan keadaan yang suci kembali, tepat seperti manusiayang baru saja lahir. Kemudian liang itu ditutup dan diatasnya didirikan susunan batu besar di atasnya berupa dolmen.
Satu hal yang menarik disina adalah bahwa Upacara Tarik Batu yang sudah di rencananakan berbulan-bullan bahkan bertahun-tahun pada akhirnya hars tunduk pada hati ayam. Seorang pendeta terpercaya akan membelah hati ayam yang memang termasuk rangkaian prosesi pemakaman, dan dari melihat hati ayam itulah sang pendeta memutuskan apakah sudah waktunya pemakaman di lakukan. Bila waktu dinyatakan belum tepat untuk memulai prosesi, sanak saudara yang telah jauh-jauh dating dari perantauan pun tak bias berkata apa-apa. Karena itulah prosesi tarik batu menjadi ritual berdaya magis tinggi yang tidak dapat disaksikan dengan mudah.
Masing-masing batu penutup makam beratnya bias lebih dari 10 ton. Di butuhkan banyak sekali orang untuk menggiringnya dari gunung ke lokasi pemakaman. Pada prosesi tarik batu tidak kurang dari 500 orang bahkan sampai lebih dari seribu orang turut serta menarik batu yang telah di pahat. Batu diletakan di atas susunan gelondongan kayu, lalu di pasangkan pahatan kayu berbentuk kepala kuda di bagian depan untuk mengesankan bahwa batu tersebut ditarik kuda. Di bagian depan seorang memimpin penarikan batu sambil meneriakkan kata-kata yang menyemangati orang-orang untuk mengeluarkan tenaga yang begitu besar tentu bukanlah pekerjaan mudah.
Walaupun Tarik Batu adalah warisan leluhur tak berarti pemikiran praktis tak menyentuh jalannya ritual ini di zaman sekarang. Dengan alas an penghematan biaya pengangkutan batu pada saat ini terkadang di lakuka dengan bantuan mobil truk. Juga dengan alas an kepraktisan kini di gunung kapur tempat dimana batu-batu tersebut berasal telah tersedia bongkahan-bongkahan batu yang sudah di belah dan disediakan khusus untuk upacara tarik batu. Prosesi ini memakan waktu berbulan-bulan lamanya mengingat upacara ini di lakukan seminggu tiga kali dank arena beratnya batu yang ditarik, dalam kurun waktu tersebut batu hanya bergeser sekitar seratus meter.
Dari upacara ini bias terlihat status social keluarga yang dimakamkan karena besarnya biaya yang di butuhkan. Upacara untuk kaum bangsawan tentu akan lebih spektakuler dibandingkan dengan pemakaman warga biasa. Maka itu dibutuhkan gotong royong penyumbangan dana oleh handai taulan baik yang masih berada di tanah sumba ataupun yang sudah bermukim jauh di luar Pulau Sumba atau belahan dunia lain. Semua orang yang hadir apalagi mereka yang membantu pengangkutan batu tentunya harus di suguhi bermacam-macam makanan , seperti daging babi panggang. Jika terdapat ribuan orang yang hadir dalam upacara pemakaman terbayang berapa ekor babi yang harus disembelih. Daging babi ini bukan hanya bermakna sebagai pengenyang perut, tapi juga sebagia symbol membersihkan tangan yang telah luka karena menarik batu.
Walaupun terkesan sulit dan repot untuk dilaksanakan, upacara Tarik Batu juga memperlihatkan eratnya hubungan keluarga, yang jelas terlihat dari segala pengorbanan demi memakamkan anggota keluarga masing-masing. Bahkan sebagian besar orang sumba telah mempersiapkan kuburnya sendiri saat masih hidup. Biasanya mereka menyiapkan lahan kubur bagi diri sendiri tak jauh dari lokasi rumahnya dan rumah saudara-saudaranya. Ini di karenakan mereka tak ingin berjauhan dengan sanak saudara walaupun nanti sudah berbeda alam. Dan agar lebih mudah bagi sanak saudara yang masih hidup untuk mengirimkan doa dan mengantarkan sesajen ke makam mereka.
Buat Anda.. kapan nih berkunjung ke Sumba???

5 komentar:

  1. ternyata Indonesia tak kalah saing dengan negara lain mengenai peradaban di masa lalu

    mantp sob. thanks dah berbagi. salam blogger^^

    BalasHapus
  2. Indonesia memang kaya adat tradisional, nice info sahabat.

    BalasHapus
  3. Your country and all the countries in the world has rich heritage and culture. Each one is unique and each one is important in shaping up the world as we know today.

    Good thing you have a translator, I was able to understand your post.

    Have a great day!

    BalasHapus
  4. wuihh...
    keren yaa ???
    infonya mantep nih :D

    BalasHapus

Followers